Peningkatan Kapasitas UMKM Kuliner melalui Strategi Social Media Marketing (SMM)
DOI:
https://doi.org/10.30998/8jppdv94Keywords:
OVOP, Promosi, UMKM, SSM, Desa KarangnangkaAbstract
Latar belakang artikel "Peningkatan Kapasitas UMKM Kuliner melalui Strategi Social Media Marketing (SMM) Berdasarkan Hasil Pengembangan Konsep One Village One Product (OVOP)" berfokus pada pentingnya mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner melalui pemanfaatan media sosial. Konsep One Village One Product (OVOP) mendorong setiap daerah untuk mengembangkan produk unggulan lokal yang unik dan berdaya saing. Dengan mengadopsi strategi Social Media Marketing (SMM), UMKM kuliner dapat meningkatkan jangkauan pasar, membangun merek, serta meningkatkan penjualan dan pendapatan. Artikel ini menyoroti bagaimana SMM dapat menjadi alat yang efektif untuk mempromosikan produk lokal dan mengatasi tantangan yang dihadapi UMKM dalam pemasaran, khususnya di era digital. Penggunaan media sosial yang tepat dapat memberikan peluang besar bagi UMKM untuk bersaing di pasar yang lebih luas dan mempertahankan keberlanjutan usaha mereka.
Downloads
References
E. T. Rahayu, B. R. Hariyadi, H. Hartati, A. Stovia, and A. A. A. D. Andriyani, “Tata Kelola Pramuwisata Khusus Sebagai Bentuk Pelibatan Masyarakat Lokal,” JPKMI (Jurnal Pengabdi. Kpd. Masy. Indones., vol. 2, no. 3, pp. 243–256, 2021, doi: 10.36596/jpkmi.v2i3.228
H. I. Rakhma Ningtyas, “Penguatan Optimalisasi BUMDes dengan Metode OVOP (One Village One Product) Sebagai Penggerak Pengembangan Perekonomian Desa,” J. Indones. Sos. Teknol., vol. 3, no. 3, pp. 381–394, 2022, doi: 10.36418/jist.v3i3.383.
Hashimoto, S. (2014). The OVOP movement and community empowerment in Japan. Regional Studies, 48(3), 445–459.
Jesse, C. (2013). One Village One Product approach as a mechanism for community development: A review. International Journal of Development and Sustainability, 2(1), 1–15.
Kitsuchart, S. (2013). The One Tambon One Product (OTOP) Project and Local Entrepreneurship Development in Thailand. Asian Social Science, 9(4), 75–84.
Kumagai, S. (2008). OVOP movement and SME development in Asia. ASEAN Economic Bulletin, 25(2), 167–177.
Kurokawa, K., Tembo, F., & Velde, D. W. T. (2010). Challenges for the OVOP movement in Sub-Saharan Africa – insights from Malawi, Kenya, and Uganda. Japan International Cooperation Agency Research Institute Working Paper, 18, 1–35.
Natsuda, K., Igusa, K., Wiboonpongse, A., & Thoburn, J. (2012). One Village One Product—rural development strategy in Asia: The case of OTOP in Thailand. Canadian Journal of Development Studies, 33(3), 369–385.
R. R. Cahyani, “Pendekatan One Village One Product (Ovop) Untuk Meningkatkan Kreativitas Umkm Dan Kesejahteraan Masyarakat,” Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan 3, 2013.
S. D. Ratnasari and A. Saikhu, “Peran Pelembagaan Dalam Program One Village One Product Melalui Empowerment Masyarakat Pendahuluan Pembangunan desa diarahkan dalam rangka mewujudkan pemberdayaan yang mengarah kepada kemandirian masyarakat . Pemberian otonomi yang luas kepada desa diarah,” vol. 7, no. September, pp. 226–242, 2022.
Shakya, M. (2011). One Village One Product: A Roadmap for Developing Rural Nepal. United Nations Development Programme, 1–52.
Sonobe, T., & Otsuka, K. (2011). Cluster-based industrial development under OVOP initiatives. World Bank Policy Research Working Paper, 1–29.
Tambunan, T. (2019). OVOP and MSME development in Indonesia: Opportunities and challenges. Journal of Entrepreneurship and Small Business Development, 7(1), 14–28.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Ely Triasih Rahayu, Hartati, Safrina Arifiani Felayati (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.






