Nilai estetika visual dan makna filosofis wayang kulit purwa karya Mbah Glemboh di Wukirsari, Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.30998/jd.v13i4.3602Keywords:
estetika visual, tatah sungging, wayang kulit purwa, makna filosofis visualAbstract
Wayang kulit purwa karya Mbah Glemboh tidak hanya berfungsi sebagai media pertunjukan, tetapi juga sebagai artefak desain tradisional yang menyimpan identitas visual, nilai estetika, fungsi peraga, dan makna filosofis visual. Penelitian ini bertujuan menjelaskan nilai estetika visual dan makna filosofis visual wayang kulit purwa karya Mbah Glemboh atau Atmo Karyo di Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis dan analisis estetika visual. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi artefak, dokumentasi visual, dan wawancara semi-terstruktur terhadap narasumber yang memiliki hubungan genealogis maupun pengetahuan lokal tentang perkembangan tatah sungging di Wukirsari. Tiga artefak yang dianalisis adalah Raden Wijasena, Prabu Salya, dan Arjuna. Analisis dilakukan melalui pendekatan estetika visual Edmund Burke Feldman yang meliputi tahap deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya Mbah Glemboh memiliki karakter visual berupa tatahan dan sunggingan sederhana, penggunaan warna dengan gradasi terbatas, bentuk kepala atau odhol, pemakaian kroncong, celana, serta motif naga ngrangsang. Ciri-ciri tersebut dibaca sebagai kecenderungan visual yang berkaitan dengan fungsi peraga, keterbacaan karakter, dan pewarisan keterampilan tatah sungging. Penggunaan celana dan motif naga ngrangsang dipahami sebagai indikasi visual awal yang masih memerlukan pembandingan lebih lanjut dengan gaya Yogyakarta dan Surakarta. Penelitian ini menegaskan bahwa karya Mbah Glemboh dapat dibaca sebagai artefak desain tradisional yang memuat hubungan antara sejarah lokal, keterampilan perajin, fungsi pedagogis, struktur visual, dan makna filosofis visual.
Downloads
References
Ardhi, B. (2019). The Visualization of Wayang Kulit Purwa by Bambang Suwarno. Journal of Urban Society’s Arts. https://doi.org/10.24821/jousa.v6i2.3431.
Aruman, N., & Kusumawati, T. (2017). Pengembangan Desain Seni Kerajinan Tatah Sungging Kulit Pucung Imogiri Bantul Yogyakarta. Corak Jurnal Seni Kriya, 6(1). https://doi.org/10.24821/corak.v6i1.2389
Burke, P. (2001). New perspectives on historical writing. Penn State Press.
Fahrudin, D., Saputro, S., Sarwanto, S., Sauli, S. S., & Qiaolu, Q. (2023). Conservation value of gunungan wayang kulit purwa for science learning materials. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 12(3), 470-481. https://doi.org/10.15294/jpii.v12i3.42870.
Feldman, E. B. (1967). Art as image and idea. Prentice-Hall.
Fitrananda, E. R., Lukitasari, E. H., & Wibowo, Y. (2022). Perancangan Karakter Tokoh Wayang Kulit Purwa Sebagai Media Pembelajaran Untuk Anak Sekolah Dasar. JURNAL KEMADHA, 12(2), 212-234. https://jurnal.usahidsolo.ac.id/index.php/kmd/article/view/1202/916.
Fitriani, A., & Rosandini, M. (2024). Kajian visual produk merchandise pada museum di Jakarta. Jurnal Desain, 12(1), 172–184. https://doi.org/10.30998/jd.v12i1.21087.
Holt, C. (1967). Art in Indonesia: Continuities and change. Cornell University Press.
Morin, L. L. D., & Harthoko, T. (2020). Pemberdayaan Masyarakat Wukirsari, Imogiri, Bantul Melalui Potensi Wisata Seni dan Penangkaran Burung. Jurnal Pengabdian Seni, 1(1), 57-65.
Nofitasari, D., Putra, T. P., & Kirana, D. A. (2024). E-Catalogue of Wayang Kulit Purwa Collection at Museum Wayang Kekayon Yogyakarta. TUMATA: Journal of Cultural and Arts Management, 2(1), 35–40. https://doi.org/10.24821/tumata.v2i1.13372.
Nugraheni, G. R. (2017). Pendidikan Pelestarian Budaya Lokal Pada Masyarakat Pengrajin Wayang Di Dusun Karangasem Wukirsari Imogiri Bantul. Spektrum Analisis Kebijakan Pendidikan, 6(6). https://doi.org/10.21831/sakp.v6i6.10117.
Nugroho, S. (2024). Transformation of Kakawin Arjunawiwāha into the Scenario Text of Wayang Kulit Purwa Performance Lakon Harjuna Wiwaha. International Society for the Study of Vernacular Settlements, 11(4), 115–129. https://doi.org/10.61275/ISVSej-2024-11-04-06
Prasetya, H. B., Hariyanto, Pangestu, S. M., Udreka, Handayani, L. L. A., & Saka, P. A. (2024). Shortage of sculptors of shadow puppets’ facial features (Bedhahan) for Wayang performance. Humanities, Arts and Social Sciences Studies, 467-481. https://doi.org/10.69598/hasss.24.2.267790.
Riffai, R., & Macaryus, S. (2018). Istilah Dalam Proses Pembuatan Wayang Kulit Di Dusun Karangasem, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Caraka: Jurnal Ilmu Kebahasaan, Kesastraan, Dan Pembelajarannya, 4(2), 115-130. https://doi.org/10.30738/caraka.v4i2.2849.
Subagya, T. (2013). Nilai-Nilai Estetis Bentuk Wayang Kulit. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 11(2). https://doi.org/10.33153/glr.v11i2.1483.
Suhardjono, Nugroho, A. S., & Siswati, S. (2025). Genderan Ada-Ada Gaya Nyi Suwanda Dalam Sajian Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta. Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran Dan Kajian Tentang Bunyi, 25(1), 131–145. https://doi.org/10.33153/keteg.v25i1.7258.
Sunarto. (2008). Seni tatah sungging kulit. Prastista.
Susanto, M. R., Mariah, S., Lukitaningsih, A., Surono, S., Saidon, H. J., Azizan, A. T., Arumsari, M. D., Ahmad, F., Wiwit, I., Lianti, D., Pangestu, R. A., Bilqisa, N. H., Maulidya, T. A., Rismawati, D., & Khotimah, K. (2024). The art of tatah sungging wayang as a strengthening branding community of wayang purwa craftsmen association in wayang gendeng hamlet, bangunjiwo bantul-yogyakarta. International Journal of Engagement and Empowerment. https://doi.org/10.53067/ije2.v4i3.172.
Tjahjawulan, I., Amboro, Y., & Naufal, D. A. (2025). Analisis elemen visual sebagai daya tarik bagi pengguna pada desain karakter game horor Dreadout2. Jurnal Desain, 12(3), 827-845. https://doi.org/10.30998/jd.v12i3.27025.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Arfiati Komariah, Novita Dwi Wulandari, Valdi Andreansyah (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
All articles published in Jurnal Desain are made available under the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License (CC BY-NC 4.0), except material expressly excluded from the article's license by a separate credit or rights notice.
1. Permissions Granted
Under CC BY-NC 4.0, users may share (copy and redistribute) and adapt (remix, transform, and build upon) the licensed material in any medium or format, including for teaching, research, and other non-commercial purposes, subject to the license terms.
2. Attribution (BY)
Users must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. Attribution should identify the original author(s), the article, the journal, and, where available, the article DOI. Attribution must not imply endorsement by the author(s) or journal.
3. NonCommercial (NC)
Licensed content must not be used primarily for commercial advantage or monetary compensation without separate permission from the relevant copyright holder(s). Users uncertain whether their proposed use is commercial should consult the license terms and seek permission where appropriate.
4. Third-Party Content and Other Rights
The license does not automatically cover third-party works or materials expressly excluded from the article's licensing notice. Moral rights, privacy rights, publicity rights, and other applicable rights and restrictions must also be respected.
5. No Additional Restrictions
Users must not impose additional legal terms or technological measures that legally restrict others from exercising the permissions granted by the license.
6. Official License
For the authoritative legal terms, consult the CC BY-NC 4.0 Legal Code. Copyright ownership is explained separately in the Copyright Notice.






